Hazelnut

I believe, something will happen as we thought so. Be positive.
Indonesian, 1993.

Kembang Desa

Dia adalah gadis tercantik di desanya. Bentuk badan yang proporsional, kulit kencang bersih langsat, rambut hitam sempurna, mata bening, hidung mancung, bibir tipis dan pipi merah merona. Ia sangat rupawan, orang-orang menyebutnya kembang desa. Para perjaka pun rela berkelahi untuk mendapatkannya. Namanya tersebar ke seantero desa, tidak ada orang yang tidak tahu siapa dia. Mata-mata seolah tertarik ke arahnya di setiap ia melangkahkan kaki, tentu karena keelokannya. Kehidupan sosialnya pun baik, mempunyai banyak teman, banyak yang menyayanginya, oh ya, dia juga berasal dari keluarga mapan dan terhormat.

Disaat gadis rupawan ini beranjak dewasa, ia menemukan tambatan hati, seseorang yang amat dicintainya. Namun ia tidak mempunyai keturunan. Tidak bisa mempunyai keturunan. Setelah beberapa lama, pernikahannya dengan orang yang -katanya- dicintainya tidak dapat dipertahankan. Ia menikah lagi dengan orang yang ia cintai lainnya. Sekarang gadis cantik ini sampai pada pernikahan ke 17, angka yang bisa membuat mata orang membelalak lebar untuk suatu ikatan suci. Namun tetap, ia tidak mempunyai keturunan. Tidak bisa mempunyai keturunan.

Entah bagaimana caranya waktu yang panjang ia habiskan. Berapa ribu malam yang sudah dilalui, berapa juta langkah yang telah ditempuh, berapa miliar kali jantungnya berdetak. Usianya sekarang telah mencapai 100 tahun lebih -konon katanya mandi malam yang sampai kini ia lakukanlah ia dapat hidup 100 tahun lamanya- .

Sekarang, ia tinggal sebatang kara. Sanak saudara dan kerabat terdekat telah berpulang menghadap sang pencipta. Orang yang dicintainya pun telah berpuluh taun yang lalu pergi. Rumah yang dahulu terlihat mewah sekarang hanya tinggal sebuah rumah klasik yang di cat berulang-ulang.

Si kembang desa yang sangat rupawan, mungkin sudah tidak cantik lagi sekarang. Mungkin badannya sudah tidak proporsional. Kulitnya telah terlipat berlapis-lapis, keriput, sangat keriput. Rambutnya tidak lagi hitam, tapi putih seputih kapur dan menghilang di sebagian tempat. Pengelihatannya kabur sama sekali, hidungnya dipenuhi bercak, bibir tipisnya bergetar tak lagi bergigi. Pipinya sudah pucat tergantung di tulang pipi membuat lipatan disekitar mulut. Ya, si kembang desa sudah sangat tua. Dan tak berdaya.


Based on true story.


Jangan pernah bangga dengan kecantikan fisik, apalagi memprioritaskan kecantikan fisik semata. Ketika yang kamu punya hanya kecantikan fisik, Maka kamu bukan orang yang berguna, kamu akan ditinggal sendirian. Kecantikan fisik hanya titipan dari Allah,ia  akan pudar, diambil kembali oleh pemiliknya. Tapi kecantikan hatilah yang paling  penting, Kecantikan hati memancar keluar dari dirimu. Semua yang kita punya adalah titipan. Mereka akan kembali kepada sang pencipta. Seperti, kita punya alat untuk melihat, namum pengelihatan milik Allah. Kita punya alat untuk mendengar, namun pendengaran milik Allah.